Pembaca Setia

Khamis, 21 Oktober 2010

NABI MAUPUN WALI ADALAH MANUSIA BIASA, TIDAK BERHAK DISEMBAH!


Oleh
Ustadz Abu Ismail Muslim al Atsari


Muhammad adalah 'abduhu wa rasuluhu. Pensifatan dari Allah bagi Nabi
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan sebutan yang paling
bagus. 'Abduhu (yang hambaNya) selain menunjukkan beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagai hamba yang benar-benar tunduk, juga mengandung
makna, beliau adalah manusia biasa seperti kita sebagai makhluk yang
tidak boleh disembah. Adapun rasuluhu (utusanNya) menunjukkan, beliau
Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang memiliki keistimewaan,
sehingga beliau tidak boleh dipandang ringan
____________ _________ _________ _________ ________

Islam mengajarkan bahwa ketaatan yang dilakukan manusia, maka
kebaikannya untuk dirinya sendiri. Manusia hanya memiliki apa yang
diamalkannya sewaktu di dunia. Allah Ta’ala berfirman :

"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk
dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas
dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya
hamba-hamba( Nya)". [Fushilat/41: 46].

"Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan
bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan
(kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang
paling sempurna". [an Najm/53: 38-41]

Oleh karena itulah barangsiapa yang berbuat kebaikan, walaupun seberat
debu, maka dia akan melihat balasannya. Allah Ta’ala berfirman:

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu)pun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan
kejahatan seberat dzarrah (debu)pun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya" . [al Zalzalah/99 : 7-8]

Demikian juga pada hari kiamat, harta benda dan anak-anak tidak akan
bermanfaat, kecuali bagi orang yang ketika hidupnya menggunakan hartanya
untuk mentaati Allah dan membimbing anak-anaknya berbakti kepada Allah
Azza wa Jalla.

"Pada hari (kiamat) harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". [asy
Syua'ara/26: 88-89]

Setelah kita mengetahui hakikat ini, bahwa setiap orang akan bertanggung
jawab masing-masing di hadapan Allah Ta’ala, maka janganlah seseorang
bergantung kepada manusia yang lain. Karena sesungguhnya seluruh manusia
itu tidak akan dapat memberikan manfaat dan mudhorat, kecuali sekadar
apa yang telah Allah tetapkan. Begitu pula dengan para rasul, manusia
yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Yang Maha Kuasa, mereka
tidak dapat berbuat apapun terhadap kekuasaan Allah Ta’ala.

Berikut sebagian contoh kejadian para rasul yang membuktikan hal tersebut.

Nabi Nuh Alaihissallam
Beliau tidak dapat menolong anaknya yang ditenggelami banjir besar di
hadapan beliau sendiri. Kemudian beliau mengadu kepada Allah tentang
kejadian tersebut, namun ketetapan Allah tidak dapat dibatalkan oleh
keinginan beliau. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Dan Nuh berseru kepada Rabb-nya sambil berkata: "Ya Rabb-ku,
sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMu itu
benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya" . Allah berfirman:
"Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan
akan diselamatkan) , sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak
baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak
mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu
supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan" . Nuh
berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon
sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau
tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan
kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi".
[Huud/11:45- 47]

Nabi Ibrohim Alaihissallam
Permohonan ampun untuk bapaknya ditolak, karena bapaknya mati dalam
kekafiran. Allah berfirman:

"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak
lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada
bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah
musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun". [at
Taubat/9:114] .

Nabi Luth Alaihissallam
Beliau tidak dapat menolak siksa Allah dari isterinya. Sehingga Allah
menjadikan isteri beliau sebagai contoh bagi orang-orang kafir. Allah
berfirman:

"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang
kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih
di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada
kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka
sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya):
"Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". [at
Tahriim/66:10] .

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam
Sebagaimana para nabi lainnya, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah manusia biasa. Beliau seorang hamba Allah. Beliau tidak
memiliki hak rububiyah (berkuasa terhadap alam semesta) maupun hak
uluhiyah (diibadahi, disembah) sedikitpun. Akan tetapi pada zaman ini
banyak orang yang melewati batas dalam memperlakukan diri Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka beranggapan bahwa Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam boleh memberikan pertolongan jika umat berdoa
kepadanya. Anggapan ini merupakan perbuatan yang menyimpang.

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah mengumumkan,
bahwa beliau sama sekali tidak dapat mendatangkan manfa'at dan tidak
pula dapat menolak kemudharatan bagi diri sendiri, kecuali yang
dikehendaki Allah. Maka bagaimana bagi orang lain? Allah berfirman:

"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan
tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan
sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak
lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi
orang-orang yang beriman". [al A'raaf/7:188] .

Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengumumkan
kepada para kerabatnya, bahwa beliau tidak mampu menolak siksa Allah
yang menimpa mereka, maka bagaimana terhadap orang yang jauh dari
beliau? Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَنْزَلَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ }وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين{َ قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا
اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ
اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ
رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ
مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا


"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Ketika turun firman
Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat}
–QS asy Syua'raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berdiri dan berkata,'Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya-
belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah
terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak
(siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul
Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu
sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak
(siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri
Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat
menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun'.” [HR Bukhari, no.
2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]

Selain penjelasan di atas, kita dapat mengambil pelajaran dari berbagai
peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam,
sehingga hilanglah berbagai syubhat (kesamaran) pada orang-orang yang
menjadikan beliau sebagai sesembahan selain Allah Azza wa Jalla. Berikut
kami sebutkan di antara peristiwa-peristiwa tersebut.

PELAJARAN DARI KEMATIAN ABU THALIB

Dalam peristiwa kematian bapa saudaranyanya tersebut, Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam tidak mampu memberikan petunjuk kepada Abu Thalib, walaupun
beliau menginginkan hal itu. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di
bawah ini:

عَنْ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ
فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ
وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا
كَلَّمَهُمْ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ مَا كَانَ
لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ
لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

"Dari Sa’id bin Musayyab, dari bapaknya (Musayyab bin Hazn), dia
berkata: Tatkala (tanda) kematian datang kepada Abu Thalib, Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mendapati Abu Jahal
dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah berada di dekatnya. Lalu
beliau berkata: "Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah
kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah!" Abu
Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali,"Apakah engkau akan
meninggalkan agama Abdul Muththalib?" Rasulullah n terus-menerus
menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan
tersebut. Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada
mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan
mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam berkata,"Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku
tidak dilarang darimu," maka Allah menurunkan (ayatNya) “Tiadalah
sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun
(kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” –QS at Taubat/9 ayat 113- Dan
Allah menurunkan (ayatNya) tentang Abu Thalib “Sesungguhnya kamu tidak
akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah
memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya”. –QS al Qashash/28
ayat 56". [Hadits shahih riwayat Bukhari, no. 4772; Muslim, no. 24]

Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, waktu itu Abu Thalib menjawab
dengan perkataan:

لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ يَقُولُونَ إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لَأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ


"Seandainya suku Quraisy tidak akan mencelaku, yaitu mereka akan
mengatakan: “Sesungguhnya yang mendorongnya (Abu Thalib) mengatakan itu
hanyalah kegelisahan (menghadapi kematian),” sungguh aku telah
menyenangkanmu dengan kalimat itu". [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 25].

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Dan di antara hikmah
ar Rabb (Sang Penguasa, Allah) Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada Abu
Thalib menuju agama Islam, agar Dia menjelaskan kepada hamba-hambaNya
bahwa (petunjuk menuju Islam) itu hanya hak Allah, Dia-lah Yang
Berkuasa, siapa saja selainNya tidak berkuasa. Jika Nabi nya -yang
merupakan makhlukNya yang paling utama- memiliki sesuatu (hak,
kekuasaan) memberi hidayah hati, menghilangkan kesusahan-kesusahan ,
mengampuni dosa-dosa, menyelamatkan dari siksa, dan semacamnya, maka
manusia yang paling berhak dan paling utama mendapatkannya adalah
bapa saudaranya, yang dahulu melindunginya, menolongnya, dan membelanya. Maka
Maha Suci (Allah) yang hikmahNya mengagumkan akal-akal (manusia), dan
telah membimbing hamba-hambaNya menuju apa yang menunjukkan kepada
mereka terhadap ma’rifah (pengenalan) dan tauhid (pengesaan) kepadaNya,
dan mengikhlasakan serta memurnikan seluruh amal hanya untukNya”.[1]

PELAJARAN DARI QUNUT NAZILAH

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ
مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ الْفَجْرِ يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا بَعْدَ مَا
يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى
قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ


"Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, jika setelah mengangkat kepalanya dari
ruku’ dari raka’at yang akhir dari shalat Subuh, beliau mengucapkan:
“Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan,” setelah beliau
mengatakan “Sami’allahu liman hamidah Rabbanaa walakal hamdu," kemudian
Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam
urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab
mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. -QS Ali
Imran/3:128. " [HR Bukhari, no. 4069]

Dalam riwayat lain disebutkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ وَسُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو
وَالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ فَنَزَلَتْ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kecelakaan
kepada Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan al Harits bin Hisyam,
lalu turun (ayat): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan
mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka,
karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. –QS Ali
Imran/3:128.” [HR Bukhari, no. 4070].

Syaikh Shalih al Fauzan berkata: “Dalam hadits tersebut terdapat
keterangan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mampu menolak
gangguan musyrikin dari diri beliau dan dari para sahabat beliau, bahkan
beliau berlindung kepada Rabb-nya, al Qadir (Yang Maha Kuasa), al Malik
(Yang Memiliki). Ini termasuk perkara yang menunjukkan kebatilan
terhadap apa yang diyakini oleh penyembah kubur tentang para wali dan
orang-orang shalih (yang dianggap mampu memenuhi keperluan dan
menghilangkan kesusahan, Pen)”.[2]

PELAJARAN DARI PERANG UHUD

Tentang sifat manusia sebagai makhluk yang terdapat pada diri Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga ditunjukkan oleh musibah yang
dialami dalam kehidupan beliau, seperti di dalam peperangan Uhud. Imam
Muslim meriwayatkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ
فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ
يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ

"Dari Anas: "Sesungguhnya pada peperangan Uhud, gigi geraham Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam patah, dan kepala beliau terluka, maka
beliau mengusap darah dari kepala beliau sambil mengatakan: 'Bagaimana
akan mendapatkan keberuntungan, satu kaum yang melukai kepala Nabi
mereka dan mematahkan gigi gerahamnya, sedangkan Nabi itu mengajak
mereka menuju (peribadahan kepada) Allah?' Maka Allah menurunkan
(ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka
itu". -QS Ali Imran/3 ayat 128. [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1791].

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Terjadinya sakit dan ujian kepada
para nabi –semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada mereka-
adalah agar mereka mendapatkan pahala yang besar, dan agar umat mereka
mengetahui apa yang telah menimpa mereka dan umat itu meneladani mereka”.

Al Qadhi rahimahulllah berkata: “Dan agar diketahui, sesungguhnya mereka
(para nabi itu) termasuk manusia, ujian-ujian dunia juga menimpa mereka,
dan apa yang mengenai tubuh-tubuh manusia juga mengenai tubuh mereka;
agar diyakini, mereka adalah makhluk, yang dikuasai (oleh Allah). Dan
agar umat tidak tersesat dengan mu’jizat-mu’jizat yang muncul lewat
tangan mereka, dan syaitan mengaburkan dari perkara para nabi sebagaimana
yang telah dia kaburkan terhadap orang-orang Nashrani dan lainnya”. [3]

Dengan keterangan yang ringkas ini, semoga jelas bagi kita tentang
kedudukan Nabi yang mulia. Sehingga kita menempatkan beliau Shallallahu
'alaihi wa sallam sebagaimana layaknya. Alhamdulillah. Dan setelah
mengetahui ini semua, lalu bagaimanakah dengan keadaan orang-orang pada
masa sekarang ini, yang memohon dan meminta pertolongan kepada para nabi
atau wali atau orang shalih atau kubur mereka? Sungguh tidak
diragukan lagi, perbuatan itu hanyalah sia-sia, dan bahkan termasuk
perbuatan khurafat.

Semoga Allah selalu menjaga kita dari perbuatan khurafat, dan segala
perkara yang mengantarkan kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Mengabulkan doa.