Pembaca Setia

Rabu, 21 Julai 2010

Antara Amal dan Hasil

Terkadang sebahagian orang berputus asa ketika tidak menyaksikan hasil yang cepat atas apa yang dilakukan oleh mereka yang berijtihad dalam dakwah. Sesungguhnya mereka ini melupakan hakikat yang penting, yaitu sesungguhnya seorang dai hanyalah hamba Allah yang tidak dituntut darinya lebih banyak dari sekadar amal, yang dituntut darinya hanyalah untuk menyampaikan, dan hidayah bukanlah yang dituntut darinya, apalagi memang sesungguhnya ia tidak memiliki hidayah itu.

Ini bukan berarti ketika kita berdakwah kita tidak perlu memperhatikan hasil dan tujuan berdakwah, atau juga bukan berarti tidak yakin dengan kemenangan. Karena sesungguhnya tsiqoh dengan kemenangan merupakan pendorong dari sebuah amal. Yang diinginkan dari hasil dakwah di sini adalah hidayah bagi manusia, yang dampaknya adalah merubah tatanan masyarakat, dari masyarakat yang jauh dari nilai-nilai islam kepada masyarakat islami. Dan hidayah itu adalah rahsia Allah, ia boleh melalui tangan kita para penyeru dakwah atau melalui tangan lain.

Imam Syahid Hasan Al-banna mengingatkan: “Wahai Ikhwah, sesungguhnya kalian mengharapkan keridhoan Allah, dan mengharapkan pahala dan keampunan-Nya, dan itu akan dijamin buat kalian selagi kalian ikhlash. Allah tidak membebankan kalian hasil dari amal kalian, akan tetapi yang dibebankan pada kalian adalah tujuan yang benar, dan persiapan yang sebaik mungkin. Dan kita setelah itu boleh saja salah, maka kita akan mendapatkan ganjaran orang yang berijtihad. Dan boleh jadi kita benar, maka kita akan mendapatkan ganjaran pemenang.”

Ustadz Sayyid Qutub mengomentari kisah ashabul ukhdud sebagai mana ucapannya: “Disana ada contoh yang menggambarkan tidak ada orang mukmin yang selamat, dan kegembiraan orang-orang kafir yang dibiarkan hidup tanpa disiksa. Itu semua, mahu tidak mahu, adalah demi memantapkan orang-orang mukmin bahwa kadang-kadang mereka dalam perjalanan dakwahnya akan mengalami akhir dakwahnya yang seperti itu. Dalam hal ini mereka tidak dimintai pertanggunganjawab apapun. Yang dipertanyakan dari mereka hanyalah permasalahan aqidah di hadapan Allah. Apa yang perlu mereka lakukan hanyalah menunaikan kewajiban. Kewajiban menjadikan Allah sebagai satu-satunya tuhan, mengutamakan aqidah dari kehidupan duniawi, penuh percaya diri dengan iman yang dimilikinya untuk melawan cubaan, menyandarkan diri hanya kepada Allah atas seluruh amal dan niatnya. Jika kewajiban itu telah ditunaikan, Allah akan berbuat bagi mereka dan musuh-musuh mereka, bagi dakwah dan agama-Nya, sesuatu yang Ia kehendaki, di sinilah perjalanan sejarah iman berakhir. Mereka adalah pekerja Allah. Dimana, bila dan bagaimanapun mereka bekerja, mereka pasti akan mendapatkan upah dari Allah. Mereka tidak perlu menggapai satu target apapun dari dakwah yang mereka lakukan itu. Perjalanan akhir dakwah adalah urusan Allah, bukan urusan mereka. Mereka hanyalah para juru dakwah suruhan Allah.”

Rosulullah bersabda: “Jika hari kiamat tiba sedangkan di tangan kalian ada benih kurma yang akan ditanam, maka hendaklah ia menanamnya. (HR. Ahmad 3/191, dishohihkan Al-bani)

Dalam hadis ini Rosulullah menyeruh kepada siapa yang di tangannya ada benih kurma sedangkan ia mengetahui bahwa kiamat telah tiba dengan tanda-tandanya, dengan bergoncangnya bumi, terbelahnya langit, bertabrakannya bintang dan planet satu sama lain, banjirnya air laut kedaratan, api-api menyala. Dengan kondisi yang ia sedari seperti itu, ia disuruh untuk menanamkan bibit kurma itu. Bukankah ini sebuah urusan yang aneh? Ini menunjukkan bahwa yang dituntut dari seorang hamba bukanlah menunggu hasil sesuai dengan apa yang telah dilakukan seorang hamba atas perintah tuannya.

Ustadz Muhammad Qutub mengomentari hadis di atas dengan mengatakan: “Bukanlah bagi kalian buah dari kesungguhan kalian, akan tetapi bagi kalian adalah kesungguhan itu saja, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan janganlah menanti-nanti hasilnya. Tunaikanlah dengan iman yang sempurna, ini adalah kewajiban kalian, ini adalah urusan penting kalian. Sesungguhnya kewajiban kalian dan kepentingan kalian berakhir bersama kalian di situ, yaitu ketika kalian menanam benihnya di tanah, bukan memetik buahnya.”

Ketika anda bertanya pada diri anda sendiri bila benih ini akan berbuah? Bagaimana ia akan berbuah sedangkan di kiri kanannya ada angin dan hama dari segala arah. Ketika anda bepikir bagaimana ia akan hidup? Bukankah anda sendiri yang memotongnya ketika anda mengambil benihnya? Akan tetapi ketika anda menanamnya di tanah dan menengadahkan kedua tangan anda memohon pada Allah, pada saat itulah anda titipkan pada tempatnya yang benar, yang memelihara tanaman itu dan memelihara anda.

Maka selagi seorang dai yakin dengan kemenangan, bukan tidak mustahil ia akan melihat kemenangan selagi ia yakin dengannya. Ia harus melakukan dengan tugasnya yang telah Allah tentukan, yaitu berdakwah pada jalan-Nya, mengoptimalkan segala sebab yang akan mewujudkan pada kemenangan, dan setelah itu bukanlah hal yang penting terealisasinya kemenangan itu dengan tangannya atau tangan orang lain.

Wallahu a’lam bishowab.

Oleh H. Zulhamdi M. Saad, Lc