Pembaca Setia

Isnin, 14 Jun 2010

Dakwah Fardiyah - Keperluan Diorganisasikan Untuk Menghadapi Pertambahan Krisis Moral






Dakwah fardiyah ialah ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang da’I (penyeru) kepada orang lain secara individual, dengan tujuan memindahkan mad’u (yang diseru) pada keadaan yang lebih baik dan diridhoi oleh Allah SWT.

Dakwah Fardiyah memiliki 3 (tiga) pendekatan :

  1. Mafhum Da’wi
  2. Mahfum Haraki
  3. Mahfum Tanzhimi

Mafhum Da’wi dalam dakwah fardiyah yaitu :

Usaha seorang da’I untuk lebih dekat mengenal mad’u dalam rangka mengajaknya ke jalan Allah. (Baca dan tadabbur Q.S. Al-Fushilat : 33-36).

Mafhum Haraki dalam dakwah Fardiyah yaitu :

Menjalin hubungan dengan masyarakat umum, kemudian memilih salah seorang dari mereka untuk membina hubungan lebih erat, dalam rangka menuntunnya kejalan Allah. (Fahami dan renungkan hadis nabi “Kullu Sulaama dst” Riwayat Muslim)

Mafhum Tandzhimi dalam dakwah fardiyah, iaitu :

Upaya pengorganisasian terhadap seorang mad’u yang diajak dan dituntun ke jalan Allah, Tanzhim tersebut meliputi : taujih (arahan), Tauzif (Penugasan) dan tashnif (Penggolongan).

Urgensi/Keperluan Segera Kepada Dakwah Fardiyah.


Betapapun dakwah fardiyah relatif lebih kecil skop jangkauannya dan lebih lambat hasil yang diraih sang da'I, tetapi dakwah fardiyah memiliki kelebihan dan urgensi yang perlu dipertimbangkan oleh setiap aktivis dakwah:

  1. Juru dakwah dituntut untuk memiliki skil/kemahiran mendidik, karena pengalaman dan latihannya yang berterusan dalam melayani mad'u agar menjadi peribadi muslim yang baik.
  2. Dalam dakwah fardiyah, para pelakunya terdorong untuk meningkatkan bekal berupa pengetahuan dan bekal-bekal dakwah lainnya.
  3. Kegiatan juru dakwah yang dilakukan secara terbuka biasanya terlihat orang banyak, dimana sang da’i diuji keikhlasannya, sedangkan dalam dakwah fardiyah sang da'I tidak kelihatan oleh orang banyak, berarti ia teruji keikhlasannya, karena ia bekerja tanpa menunggu atau mengharapkan keuntungan material dari orang lain.
  4. Juru dakwah dalam dakwah fardiyah adalah aktifis dakwah dengan segala makna dan penjabarannya, bahkan ia adalah seorang teladan bagi mad’unya.
  5. Mad’u dalam dakwah fardiyah adalah orang-orang pilihan berdasarkan pengetahuan dan ijtihad sang da’i.
  6. Dalam dakwah fardiyah, mad’u mendapat peluang bertanya dan berdialog serta berkonsultasi lebih dekat dan lebih banyak.
  7. Hubungan antara da’i dan mad’u kelihatan lebih rapat dan harmoni.
  8. Mad’u dalam dakwah fardiyah merasa selalu diperhatikan oleh sang da’i, secara psikologi akan memberikan kesan positif.
  9. Arahan dan bimbingan lebih fokus dan efektif serta efesien (tak perlu biaya) dibanding dakwah umum.
  10. Dakwah fardiyah dapat dilakukan dalam segala situasi, waktu dan dimana saja dan dalam setiap peluang dan kesempatan