Pembaca Setia

Jumaat, 14 Mei 2010

KUKU SIHAT NAN INDAH,KUKU SESUAI FITRAH ISLAM


(diterjemah dan diedit oleh UK)


Kuku adalah salah satu organ pelengkap kulit selain kelenjar peluh dan rambut. Ia merupakan lempeng yang mengandungi lapisan tanduk. Tempatnya yang berada di hujung-hujung jari tangan dan kaki, selain berguna untuk membantu jari-jari untuk memegang, juga boleh menjadi sarana untuk memperindah penampilan, dan khususnya bagi para wanita yang menyukai keindahan.

Dibandingkan dengan makhluk lainnya, kuku manusia lebih baik dan lebih sempurna. Demikian sempurna ciptaan ini, sehingga kuku menjadi pelengkap tangan dan kaki atas diri manusia. Bagaimana bila kuku ini tidak ada ataupun rosak serta sakit? Sudah tentu tangan maupun kaki tak akan berfungsi dengan baik ketika melakukan pekerjaan.

BEBERAPA PENYAKIT TERTENTU DI LOKASI KULIT

Penyakit yang menyerang pada bagian kuku, merupakan salah satu bagian penyakit kulit itu sendiri, di antaranya :

1. Paronikia, iaitu suatu reaksi peradangan (inflamasi) yang menyerang lipatan kulit di sekitar kuku, baik di kaki maupun jari tangan. Ditandai dengan pembengkakan dan rasa sakit.Jika disertai infeksi, maka boleh mengeluarkan nanah (pus). Biasanya mengenai ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah (jari 1-3). Hal ini disebabkan oleh trauma karena perlunakan suatu benda yang diakibatkan oleh cairan pada tangan atau kaki, dan seringnya jari-jari berhubungan dengan air. Celah yang lembab pada kuku kemudian terkontaminasi oleh bakteria atau kulat
Keadaan seperti ini selalu terjadi pada wanita dan mereka yang sehari-hari sering bersentuhan dengan air ketika bekerja. Pada anak-anak,boleh kerana menghisap jari. Penderita DM (diabetes mellitus), penyakit dengan kadar gula darah tinggi dan malnutrisi, sangat berisiko terkena
penyakit ini.

2. Onkolisis, iaitu terpisahnya kuku dari dasar kuku, terutama bahagian bawah atau tepi. Warna kuku berubah menjadi kuning karena ada nanah (infeksi). Keadaan seperti ini biasa terjadi kerana kulat, trauma kerana kasut atau bahan kimia. Onikolisis dan paronikia boleh diakibatkan kuman yang disebut pseudomonas aeruginosa yang mengubah warna kuku menjadi berwarna hijau.

3. Penyakit kuku lainnya, misalnya kuku psoariasis, penyakit yang bersifat kronik di lokasi kulit, atau keadaan kuku yang memang mudah pecah dan rapuh karena kekurangan vitamin A atau B serta penyakit keturunan maupun bawaan yang boleh menimbulkan kelainan di kuku.

KUKU BOLEH MENUNJUKKAN TANDA DAN GEJALA PENYAKIT DARI TUBUH

Dari kuku, kita boleh mengetahui adanya kelainan atau penyakit tertentu di tubuh manusia. Hal ini boleh ditunjukkan dengan dua keadaan kuku.

Pertama :

Adanya Perubahan Bentuk Kuku.
Beberapa contoh dalam hal ini, misalnya bentuk kuku yang menggembung dan konveks (cembung) atau disebut clubbing finger (jari-jari tabuh). Dengan keadaan kuku seperti ini, dapat diketahui pada diri si empunya kuku terdapat kelainan di paru-parunya. Misalnya TBC, bronkhitis kronik, pertumbuhan tumor dan sebagainya, maupun kelainan ada di lokasi jantung, misalnya penyakit jantung bawaan.

Keadaan mental atau psikologi seseorang yang mengalami gangguan, juga dapat dilihat dengan seringnya menggigit kuku yang disebut dengan onikofagia.

Kedua : Perubahan Warna.

Perubahan warna kuku selalu terjadi karena pigmen melanin yang dimiliki tubuh akibat proses pembentukan melanin yang berlebihan. Dapat juga disebabkan karena adanya mendapan zat lain pada bagian-bagian kuku. Warna yang timbul akan bergantung pada tempat dan sifat-sifat zat yang dimendapkan.

Kuku warna hitam boleh terjadi kerana kekurangan vitamin B12, tumor kulit yang ganas, peningkatan hormon MSH. Yaitu suatu hormon yang merangsang pengeluaran sel melanin (sel pemberi warna hitam ke kulit), atau boleh karena infeksi kulat di kuku itu sendiri. Begitu juga obat anti malaria, penyakit herediter (penyakit keturunan, misalnya penyakit addison), juga penoftalin pun boleh menjadikan kuku berubah coklat atau merah tua. Atau akibat kelainan metabolisme tembaga (Cu), penyakit bawaan, maka kuku berubah warna biru. Kuku biru juga terjadi karena perdarahan di bawah kuku.

Kuku berwarna putih terbatas karena pengaruh dari penyakit tifus, penderita ginjal kronik juga penyakit bawaan maupun infeksi kulat. Warna putih ini sangat penting sekali pada kes keracunan, yaitu keracunan arsenik dengan gambaran khas garisan putih melintang pada kuku
(meen’s transverse band), juga keracunan talium dengan gambaran garis-garis putih. Keracunan talium ini tidak khas, karena gambaran garis putih juga menunjukkan penyakit bawaan ataupun trauma otak yang hebat. Ada gambaran pita putih susu berbatas tegas yang menyeluruh disebabkan seseorang kekurangan vitamin B yang berat (penyakit pellagra). Sedangkan kuku dengan warna putih yang menyeluruh, boleh dijumpai pada penderita lever (sirosis hepatis, penyakit jantung dan penyakit kronik lainnya). Suatu keadaan yang normal pun untuk anak-anak umur 1-4 tahun menunjukkan gambaran kuku dengan warna putih di seluruh
permukaannya.

MENCEGAH PENYAKIT DENGAN MERAWAT KUKU

Kuku bersih dan sehat juga sebagai cerminan kesehatan tubuh seseorang.Sehingga, kuku yang bersih dan selalu dipotong, atau tidak dibiarkan panjang, ia boleh mengurangi risiko penyakit cacing, diare, desentri atau penyakit-penyakit lain yang ditimbulkan oleh kuman, parasit atau
kulat yang suka bersembunyi di balik kuku.

Beberapa cara untuk menjaga kesehatan dan keindahan kuku, sekaligus jari-jari tangan maupun kaki :

1. Hindari trauma (benturan) atau luka, dan jagalah agar kulit sekitar kuku tetap kering.

2. Jangan menggunakan kasut atau sandal yang terlalu ketat, serta hindari pemakaian yang terlalu lama, terlebih dengan kasut atau sandal tertutup, untuk mencegah kelembapan di hujung tangan atau kaki.

3. Gunakan sarung kaki atau sarung tangan dalam keadaan bersih dan kering.

4. Dianjurkan menggunakan sarung tangan yang terbuat dari getah dan cotton ketika menggunakan sabun dan air dalam waktu lama atau kontak dengan bahan kimia rumah tangga maupun bekerja dengan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah (berkebun, bertani dan lain-lain).

5. Jangan menggunakan kuku untuk mengambil sesuatu, memukul maupun membuka tin.

6. Kebiasaan menggigit kuku harus ditinggalkan, karena boleh merusak bantalan atau dasar kuku.

7. Potonglah kuku sesuai panjang jari. Kuku tumbuh dari akar kuku keluar ke bagian kuku yang bebas dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm tiap pekan dan kuku jari kaki pertumbuhannya lebih lambat lagi.

Dalam hal memotong kuku ini, perlu juga diperhatikan anjuran sebagian ulama, sebagaimana disebutkan dalam Khishalu al Fithrah, Abu Syamah al Maqdisi hlm. 72, sebagian ulama ada yang menganjurkan mencuci hujung-hujung jari selesai dipotong kukunya. karena, bila langsung dipakai untuk menggaru sebelum dicuci, dapat menimbulkan kesan yang buruk pada tubuh.

8. Tidak boleh membiarkan kuku lebih dari empat puluh hari, berdasarkan riwayat Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia bercerita: "Kami diberi batasan tempoh untuk memendekkan misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan dengan tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam". [HR Muslim, 257].

Meskipun sebenarnya untuk membersihkan kuku dilakukan berdasarkan keperluan. Bila sahaja diperlukan untuk mengambilnya, maka itulah waktunya. Tetapi seyogianya tidak melebihi empat puluh hari. [Lihat Shahihu Fiqh as Sunnah, 1/101].

9. Selalu mencuci tangan dari tempat kotor, sebelum makan serta sebelum dan sesudah bangun tidur. Mencuci tangan sebaiknya memakai sabun dan menggosok seluruh jari-jari, serta permukaan kuku maupun hujung jari-jari. Biasakan juga anak-anak mencuci tangan dan memotong kuku,serta belajar mengikuti perbuatan sunnah tersebut. Terlebih lagi anak-anak memang biasa senang bermain sesukanya, misalnya bermain tanah, pasir dan lain-lain.

10. Bagi wanita yang menyukai, dibolehkan mewarna kuku dengan bahan yang tidak menghalangi masuknya air ke permukaan kuku, supaya wudhu seseorang tetap sah. Pakailah pewarna kuku dengan bahan alami yang sudah dikenal. Misalnya daun pacar, daun inai atau al hinna. Demikian itu tidaklah dilarang, seperti halnya sebagian wanita pada zaman Rasulullah juga mengecat kukunya dengan bahan alami tersebut.

BEBERAPA PENDAPAT AHLI KESEHATAN DAN PARA ULAMA TENTANG KUKU

Ada sebuah kajian ilmiah berharga yang dilakukan oleh salah satu universiti di Timur Tengah. Kajian tersebut mengambil sampel potongan kuku para pelajar dan meletakkannya ke dalam tempat khusus sesuai suhu tubuh. Kemudian tempat itu dilihat di bawah mikroskop. Ternyata,
hasilnya sangat menakjubkan. Yakni terdapat ratusan macam bakteria yang sangat berbahaya dalam kandungan potongan kuku tersebut. [Majalah al ‘Arabiyah, Edisi 179].

Berkenaan dengan cat cucu (kuteks), Dr. Mahmud Majid al Bayyar,konsultan ahli penyakit kulit dan kelamin mengatakan, bahwa cat kuku dengan campuran zat kimia, memiliki pengaruh berbahaya pada kuku.Karena, zat itu menutup jalan udara dan menghalangi pusingan
kelembaban antara kuku dan udara. Dalam keadaan seperti ini, biasanya kuku menguning dan redup, tidak mengkilap, retak dan mudah pecah.Disamping itu, kulit yang dikelilingi kuku mudah terkena penyakit kulit dan gatal-gatal. Demikian juga dengan kuku palsu. Menurut Dr. al
Bayyar, hal itu dapat membahayakan kuku asli, yang mengakibatkan luka,cacat dan menimbulkan gangguan di celah-celah kulit serta iritasi. [Akhbar al Madinah, Edisi 9125].

Syaikh Muhammad bin al 'Utsaimin berkata,"Sungguh suatu hal yang rancu.Pada ketika mereka mengakui diri mereka sebagai masyarakat maju dan moden, namun mereka masih membiarkan kuku mereka panjang. Padahal mereka mengetahui, bahwa hal itu boleh membawa kotoran dan penyakit,serta memasukkan manusia dalam kategori haiwan".

Adapun berkenaan dengan cat kuku (manicure), Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin berpendapat, bahwa wanita dilarang menggunakan cat kuku ketika dia solat, karena air wudhu tidak dapat masuk. Segala sesuatu yang menghalangi masuknya air wudhu, maka dilarang bagi orang yang
solat. Namun, jika sedang berhalangan atau sedang haid, maka menggunakannya tidaklah mengapa. Hanya saja perlu untuk diketahui,bahawa itu termasuk identiti wanita kafir, dan tentu kita tidak boleh mengikutinya. [Lihat fatwa tentang wanita, hlm. 34].

Syaikh 'Abdul ‘Azis bin Baz juga berpendapat, meninggalkan cat kuku adalah lebih baik dan lebih terjaga (dari dosa). Wajib menghilangkannya sebelum bersuci dalam hadas besar dan kecil.

PENUTUP

Begitu bernilanya sepotong kuku. Sehingga kita perlu menjaganya sebagai sebuah fitrah dalam agama. Menjaga kuku ini bukan dengan memanjangkannya, tetapi dengan memotong kuku. Demikian ini yang diajarkan sunnah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيُّ قاَلَ : " اَلْفَطْرَةُ
خَمْسٌ, أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفَطْرَةِ : اَلْخِتَانُ وَالاِسْتِدَادُ, وَ
تَقْلِيْمُ الاَظَفَارِ, وَ نَقْفُ الايِطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ ". ( متفق عليه )

"Fitrah itu lima atau lima di antara fitrah adalah : khatan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menggunting misai". [HR al Bukhari-Muslim dalam Riyadhus Shalihin, no. 1211].

Dalam hadis ini, yang dimaksud dengan sunnah fitrah adalah, apabila dikerjakan, maka orangnya berada dalam fitrah yang Allah telah menciptakan dirinya dalam kondisi seperti itu dan menyukainya. Karena orang tersebut akan berada dalam penampilan yang paling sempurna dan mulia.

Itu merupakan sunnah yang disepakati oleh para nabi dan seluruh syari’at. Seolah-olah menjadi perkara yang melekat pada mereka.Disebutkan dalam Faidhu al Qadir al Munawi (1/38), yang kami nukil dari Shahihu Fiqhi as Sunnah hlm. 97, sesungguhnya, maslahat agama dan
duniawi terselip pada sunnah-sunnah fitrah ini, yaitu memperbaiki penampilan dan membersihkan kondisi tubuh.

Wallahu a’lam.

Sumber Bacaan :
- Shahihu Fiqhi as Sunnah, Abu Malik Kamal as Sayyid Salim, Maktabah Taufiqiyah.
- Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, Th. 1999. Edisi 3.
- Zinatul Mar’ah, Muhammad bin Abdul Azis al Musnid, Darul Haq. Cet. 1V, Th. 2002.
- Dan sumber-sumber lainnya.