Pembaca Setia

Khamis, 20 Mei 2010


JANGAN RAGU-RAGU KETIKA BEROBAT DENGAN AL QUR’AN


Kurang lebih satu bulan lalu, hari khamis, seingat saya hari khamis. Hari itu sebenarnya bukan jadual saya di klinik Ruqyah Surabaya tetapi karena tidak ada kesibukan maka saya menyempatkan diri datang ke klinik untuk membantu teman-teman peruqyah lain.


Saat itu ada seorang ibu datang membawa anaknya, laki-laki, masih sek ren. “Anak itu tampak lemah dan datang dalam keadaan dipapah oleh sang Ibu. Pak, anak saya sudah 13 hari ini sakit, badannya lemah tidak bertenaga, setiap hari hanya boleh berbaring, saya sudah membawa ke beberapa doktor tetapi belum ada hasilnya,” ucap sang ibu membuka percakapan.


Lantas, saya persilakan Ibu dan anak tersebut masuk ke ruang terapi bersama pasien-pasien lain. Di dalam ruangan ada beberapa pasien lain yang juga sedang menunggu untuk terapi…Terapi dimulai…saya bacakan beberapa ayat dan doa-doa ruqyah dengan kuat. Ada salah satu pasien yang bereaksi cukup agresif sehingga menarik perhatian semua yang ada dalam ruangan itu, termasuk saya. Sedangkan si anak tadi, dia tidak bereaksi sedikit pun. Dia hanya berbaring lemah disamping ibunya, sama seperti saat awal ia datang. Sementara salah satu pasien yang bereaksi agresif tadi tetap bereaksi. Karena agresifnya reaksi, akhirnya saya lebih mengutamakan dia.


Untuk si anak tadi hanya saya terapi beberapa minit dengan membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan selanjutnya saya mainkan MP3 ruqyah dari HP saya. Saya dekatkan HP disamping anak itu, sementara saya meruqyah seseorang yang masih bereaksi agresif tadi.


Setelah 1 jam lebih, proses terapi saya akhiri, demikian juga saya matikan HP disamping anak tadi. Lalu, saya sampaikan beberapa hal yang harus dilakukan untuk terapi di rumah. Sejujurnya saat pertama kali melihat dia datang dalam keadaan lemah, saya sudah menduga bahwa anak itu tidak akan bereaksi ketika ruqyah. Saya juga tidak yakin apakah anak ini boleh sembuh dalam waktu singkat melalui proses ruqyah.


Tapi, subhanAllah, hari Isnin Ibu itu datang kembali bersama keluarga besarnya, dan tak terkecuali anak itu juga ikut datang. Anak itu datang dengan wajah ceria, dan berjalan dengan tegap. Ibu itu menceritakan bahwa pagi hari,Jum’at pagi anak itu telah ke sekolah. Khamis malam dia diruqyah, dan Jumaat pagi dia boleh ke sekolah. Subhanallah. Sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana ia boleh sembuh secepat itu. Padahal anak itu hanya mendengarkan ruqyah melalui MP3 ruqyah di HP saya dan saya tidak menterapi dia sebagaimana pasien lain yang beraksi agresif tadi. Dari cerita ini, saya berkesimpulan :


1. Allah-lah yang menentukan takdir kesembuhan seseorang bukan kita maka jangan bertawakkal pada penterapi/perawat, tapi bertawakkal-lah pada ALLAH, karena Ia penentu keputusan. Jangan menisbatkan kesembuhan kepada penterapi tetapi nisbatkan kesembuhan itu kepada Allah.


2. Tidak boleh ada keraguan saat berobat dengan Al Qur’an, tidak ada istilah cuba-cuba. Bacalah atau dengarkanlah Al Qur’an dan selanjutnya biarkan Takdir Allah yang bekerja. Bahkan kita sering kali tidak tahu bagaimana kesembuhan itu terjadi. Penuhi perintahNYA dengan berubat sesuai dengan syariat, selebihnya biarkan ALLAH yang memutuskan apa yang terbaik bagi kita.


3. Niat mengharapkan kesembuhan dalam proses ruqyah, jauh lebih penting dibandingkan dengan niat mengalahkan atau mengusir jin.


Setidaknya 3 hal inilah yang patut kita renungkan. Dan mungkin ketiga hal itulah yang ada dalam hati Ibu dan anak tadi.

Jika saat ini kita, anak kita, atau keluarga kita sedang mengalami musibah berupa sakit yang tidak kunjung sembuh maka bacakanlah Al Qur’an. Bacalah dengan perasaan tunduk dan redho terhadap sakit itu, merendahkan diri, penuh pengharapan, yakin, dan tanpa keraguan.


Wallahu a’lam bishshowwab.