Pembaca Setia

Khamis, 20 Mei 2010

ISTERI MEMINTA TALAK KARENA SUAMI PENAGIH DADAH

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukumnya seorang isteri meminta talak karena suami penagih dadah dan bagaimana jika dia tetap mempertahankan pernikahannya sebab tidak ada yang memberi nafkah kepada keluarga dan anak-anaknya kecuali suaminya?

Jawaban

Dibolehkan seorang isteri meminta talak dikarenakan suami penagih dadah dan rusak akhlaknya. Anak-anak mengikuti ibunya bila umur mereka di bawah tujuh tahun dan nafkah mereka menjadi tanggungan bapak. Akan tetapi si isteri tersebut boleh tinggal bersama suaminya apabila ada kemungkinan berubah sikap.

[Durus wa Fatawa Haramul Makky, Syaikh Utsaimin, juz 3/235]

MENUNTUT TALAK KARENA SUAMI MANDUL

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seorang wanita telah lama menikah dan tidak dikarunia anak. Dari hasil pemeriksaan medical ternyata yang mandul adalah suaminya dan tidak mungkin boleh mempunyai keturunan. Apakah boleh wanita tersebut menuntut talak?

Jawaban

Apabila ternyata yang mandul adalah suami, maka isteri dibolehkan mengajukan tuntutan talak dan jika suami menolak, maka hakim pengadilan boleh memaksa laki-laki tersebut untuk menjatuhkan talak, karena tujuan utama menikah bagi wanita adalah mendapatkan keturunan. Sehingga wanita mempunyai hak untuk meminta talak atau memutuskan akad nikah bila mendapati suaminya mandul, dan inilah pendapat yang kuat menurut para ulama.

[Fatawa Mar'ah, hal. 63]

ISTERI MENUDUH SUAMI IMPOTEN/MATI PUCUK

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya : Seorang isteri menuduh suaminya impotent, setelah disuruh periksa, suaminya tersebut melarikan diri?

Jawaban

Disebutkan dalam pertanyaan bahwa seorang isteri menuduh suaminya impotent dan ia masih tetap perawan, setelah isteri mengadukan kepada pengadilan, maka hakim memutuskan agar keduanya diperiksa secara medical, tetapi tatkala isteri sedang menjalani pemeriksaan, suaminya melarikan diri dan tidak kembali.

Setelah memperhatikan dengan baik masalah tersebut, maka boleh wanita tersebut diperiksa secara medical oleh doktor dan setelah itu suaminya dituntut untuk menyelesaikan tuduhan isterinya dan jika suaminya tidak hadir dalam persidangan, maka hakim melihat berapa lama suami tersebut menghilang dan berapa nafkah yang harus diberikan kepada isterinya.

[Fatawa wa Rasaail Syaikh Muhammad bin Ibrahim, Juz 10 hal.164]

(NOTA DARI UK: PARA ISTERI DIMINTA BERFIKIR PANJANG-PANJANG,DAN JANGAN MENGIKUT FATWA DI ATAS SECARA MEMBUTA-TULI)