Pembaca Setia

Khamis, 20 Mei 2010

Ikhlas, Kunci Kejayaan Dakwah di Pelosok Negeri

Tanpa bermodal ikhlas, susah seorang dai dapat menembus rintangan dakwah di pendalaman.

Pernyataan ini disampaikan oleh Abdul Wahid Alwi, Sekretaris Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) Pusat, Sabtu (7/11) di rumahnya di Duren Sawit, Jakarta Timur.
Pernyataan ini disampaikan Wahid ketika merasakan semakin bergairahnya dakwah Islam di daerah pelosok Indonesia yang dilakukan dai dari Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII).


"Ikhlas merupakan syarat penting agar dakwah sampai pada sasaran (umat),” kata Wahid.
Wahid mengaku bangga dengan para dai yang ditugaskan di daerah-daerah pelosok. Tanpa keikhlasan hati, kata Wahid, mana mungkin para dai itu mau ditugaskan berdakwah di pelosok berbulan-bulan.


Keikhlasan ini pula, sambung Wahid, yang mampu menyingkirkan tantangan dan masalah yang dihadapi ketika berdakwah. Bagaimana pun juga dakwah di perkotaan dan di pelosok sangat berbeza. Minimanya kemudahan dan beratnya medan merupakan ciri dakwah di pelosok yang mesti dihadapi para dai. Selain ikhlas, di dalam berdakwah wajib mengikuti sunnah Rasulullah. Sehingga seorang dai berdakwah berdasarkan ilmu, hikmah, dan kesabaran, jelas Wahid.


Wahid berharap para dai Dewan Da’wah yang bertugas di pelosok agar tetap ikhlas dan konsisten menjalankan dakwah Islam. Ia juga mengingatkan agar para dai tidak terpengaruh hal-hal yang bersifat keduniaan.


“Banyak para dai yang luntur keikhlasannya, ketika dihadapkan pada masalah-masalah keduniaan,” katanya.


Berkembang


Menurutnya, hingga saat ini, tercatat 280 orang dai Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) yang berdakwah di daerah-daerah pelosok Indonesia. Banyak diantara mereka bahkan menetap setelah menikah dengan perempuan asli daerah sana. Dakwah mereka pun semakin berkembang.
Ia mencontohkan dai yang bertugas di Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena simpati dengan dakwah dai tersebut, cerita Wahid, seorang raja di sana meminta sang dai untuk menikah dengan puterinya.


Karena yang dinikahi adalah puteri raja, maka dakwah si dai tersebut semakin berkembang. Ramai penduduk setempat yang mengisytiharkan diri sebagai Muslim.


Para dai di Soe ini juga melakukan dakwah bersama dengan dai-dai lain. Misalnya dengan dai dari Hidayatullah dan dari Baitul Ansor. Berdakwah di Soe ini sangat berat. Untuk kenderaan dakwah biasanya para dai mempergunakan motor yang harga minyaknya 1 liter sama dengan dua kali ganda dari harga normal. Harga minyak tanah dan gas pun mahal dan seringkali keputusan bekalan .[syaf/www.hidayatullah.com]