Pembaca Setia

Rabu, 28 April 2010


LARANGAN BERSETUBUH DENGAN BERTELANJANG BULAT


Oleh Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat

Hadits ke 19

Artinya : Apabila salah seorang dari kamu mendatangi isterinya
(bersetubuh/ jima'), maka hendaklah ia menutup (badannya) dan janganlah ia (bersama isterinya) bertelanjang bulat seperti dua ekor unta yang bertelanjang
bulat.

DLA'IF. Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Majah (no.1921) dengan sanadnya
(jalannya) dari Al-Walid bin Qasim Al-Hamdaniy (ia berkata) : Telah
menceritakan kepada kami Al-Ahwash bin Hakim dari bapaknya dan Raasyid bin
Sa'ad dan Abdul A'la bin Adiy (ketiganya) dari Utbah bin Abdussulamiy, ia
berkata : Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : (seperti
diatas).

Saya berkata : Sanad hadits ini dla'if, Al-Ahwash bin Hakim seorang rawi
yang lemah hafalannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Hajar di
Taqribnya (1/49), Illat lainnya, ialah Al-Walid bin Qasim Al-Hamdzniy
sebagaimana telah diterangkan oleh Syaikh Albani di kitabnya Adaabuz Zafaf
(hal : 108-112) dan di Irwa (7/71 no 20009)

[Disalin dari buku Hadits-Hadits Dlaif dan Maudlu, Penulis Al-Ustadz Abdul
Hakim
bin Amir Abdat, Penerbit Darul Qalam]

Nasehat untuk yang baru menikah....

MEMASUKI AWAL KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA

Menikah merupakan sunnah para nabi dan para rasul, disamping sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan dan karunia nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Melalui pernikahan, manusia yang berpasangan laki-laki dan perempuan akan memulai menjalani kehidupan baru, yaitu kehidupan rumah tangga, yang menjadi kehendak setiap manusia di muka bumi ini. Demikian ini sudah sunnatullah, yang merupakan kitaran kehidupannya sebelum semuanya berakhir, yaitu mendapatkan keturunan.

Di hadapan sepasang suami-isteri tersebut terbentang berbagai permasalahan yang harus dihadapi bersama. Permasalahan di dalam keluarga sangatlah kompleks dan saling berkaitan, antara satu dengan lainnya. Tidak hanya dari segi syari'at, dunia, kesehatan pun akan dihadapinya serta akan mempengaruhi bagaimana syariat itu dijalaninya.

Bagi para calon pasangan yang akan memasuki bahtera rumah tangga, juga bagi mereka yang memulai menapaki kehidupan baru, perlu sedikit mengetahui beberapa hal berkaitan dengan liku-liku kesehatan yang akan mewarnai kehidupannya.

PASCA MENIKAH

Setelah proses pernikahan, pasangan baru yang biasa disebut pengantin baru, akan selalu mendapatkan perasaan yang penuh suka cita. Mungkin, masa inilah puncak keindahan dan kenikmatan setiap insan, baik laki-laki maupun wanita.

Di balik rasa kegembiraan ini, tidak sedikit keluhan yang dialami pasangan baru. Selain harus beradaptasi dalam hal keperibadian masing-masing, masalah kesehatan hampir selalu terjadi pada awal kehidupan barunya. Secara fisik, keluhan sering terjadi pada pihak wanita.

Beberapa hari, bahkan sampai beberapa bulan setelah menikah, sang isteri yang sebelumnya masih perawan atau gadis, biasa akan mengeluh sakit di daerah farji, kemudian berlanjut mengeluh ngilu ketika buang air kecil. Terkadang mengalami kesulitan buang air kecil. Lebih lanjut,boleh berisiko terkena infeksi/jangkitan saluran kencing, terutama mereka yang sebelumnya pernah mengidap penyakit ini. Tak ketinggalan sakit pinggang dan punggung akan menyertai hai-hari baru sang isteri.

Dengan berjalannya waktu, keluhan-keluhan tersebut boleh menghilang dengan sendirinya. Apabila sakit pada ketika berkemih maupun ngilu/sakit di daerah faraj terus-menerus, sangat diperlukan pengertian dan keikhlasan dari sang suami, yakni untuk sementara waktu tidak melakukan sanggama, sampai rasa ngilu/sakit itu hilang. Jika keadaan isteri masih sakit, namun tetap dipaksakan untuk berjima’ -meskipun semuanya ridha- justru tak akan mendapatkan kenikmatan yang sempurna, serta boleh menyebabkan sakit sang isteri akan bertambah parah. Bila keluhan ngilu/sakit tidak berkurang atau hilang, sebaiknya segera dirawat. Ubat-ubat analgetik boleh meredakan ngilu/sakit tersebut. Jika perlu diberi antibiotic, bila terjadi jangkitan di saluran kencing dan daerah faraj.

Ada lagi penyakit yang tiba-tiba datang pada ketika pengantin baru ini, yaitu gastrik akut. Dikenal dengan penyakit maag. Hal ini disebabkan isteri sering terlambat makan, lantaran selalu menunggu sang suami tercinta datang dari mencari nafkah untuk dapat makan bersama. Untuk mencegah datangnya penyakit maag ini, sebaiknya makan tepat waktu, atau ketika perut sudah merasa lapar. Kalau menghendaki makan bersama suami, makanlah dengan kadar sedikit lebih dahulu, atau makan sambil-sambilan untuk menghilangkan rasa lapar tersebut, kemudian boleh diulangi lagi pada ketika suami datang. Hati-hati bagi mereka yang sebelumnya sudah terkena penyakit ini, sebaiknya lebih dijaga supaya penyakit tersebut tidak lebih parah.

Selain pihak isteri, sang suami pun setelah menikah terkadang mengalami kecemasan berlebihan. Ini biasa terjadi pada mereka yang mengalami ejakulasi pra matang(keluar mani lebih awal). Hal ini tidaklah perlu dikhawatirkan, karena kondisi tersebut masih dalam keadaan normal sebagai pengantin baru.

MENGHADAPI KEHAMILAN

Seorang wanita yang sudah bertekad untuk menikah, jauh-jauh sebelumnya harus mempunyai pandangan bahwa pasca menikah akan ada hasil cinta kasih bersama suami, yaitu kehamilan yang merupakan takdir dan kehendak Ilahi. Dengan siap untuk hamil, maka secara psikologinya kehamilan boleh dihadapi dengan hati ikhlas dan ketenangan.

Kehamilan pertama akan selalu dinanti dan diharapkan oleh setiap pasangan baru. Namun demikian penantian dan harapan janganlah disikapi terlalu berlebihan. Berserah diri kepada Yang Maha Pencipta itu lebih baik dalam mengharap kehamilan pertama ini, karena berkaitan juga dengan masalah takdir Allah Azza wa Jalla, dengan tetap selalu melakukan ikhtiar. Sehingga pasangan yang belum diberi karunia anak tidak akan merasa cemas yang berlebihan (anxiety). Kecemasan ini, secara psikologi boleh menjadi punca terjadinya konflik hubungan suami-isteri.

Setelah dinyatakan isteri hamil, maka kegembiraan akan terpancar dari pasangan baru ini, dan akan disambut juga oleh keluarga serta kerabat lainnya. Masa hamil muda atau masa mengidam akan dilaluinya, biasa berlangsung sampai 4 bulan. Namun tak semua wanita hamil muda mengalami masa ini. Mual dan muntah biasa mengiringi ibu hamil muda. Terkadang sampai berlebihan (hiperemesis gravidarum), sehingga isteri mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi, yang boleh berakibat lebih buruk terhadap kesehatan dan perkembangan bayinya.

Hadapilah masa ini dengan banyak istirehat. Atasi mual muntah dengan ubat-ubat anti mual atas cadangan doktor. Jangan minum sembarangan ubat anti mual. Usahakan agar banyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi dan lemas di tubuh. Dianjurkan mengambil multivitamin, supaya tubuh tidak terlalu lemas. Bila isteri mengidam, sangat diperlukan kesabaran suami, dan bersikap bijaksana, misalnya dengan memberikan makanan atau minuman yang disukai isteri. Namun demikian, si isteri pun harus bijaksana dan mengerti, untuk tidak selalu merepotkan dan menyibukkan suami gara-gara mengidam ini; sehingga pekerjaan utama mencari nafkah terabaikan, terlebih lagi dengan keadaan ekonomi yang cukup makan.

Pada masa mengidam, sebaiknya mengurangi kekerapan senggama untuk menghindari bertambah lemahnya keadaan isteri. Tetapi, jika memungkinkan boleh dilakukan dengan hati-hati.

Ketika kehamilan ini, perlu perhatikan beberapa penyakit yang kadang-kadang tiba. Di antaranya batuk-batuk, sakit kepala, gatal-gatal di kulit, selsema, gangguan kencing, sakit pinggang bawah serta tulang belakang, sakit perut bagian bawah dan lain-lain. Penyakit ini hanya ringan, kadang hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan. Namun, apabila penyakit tersebut memperburuk keadaan, sebaiknya pergi minta pandangan doktor.

Semakin tua masa kehamilan, keadaan fizikal isteri akan kembali pulih. Sebaiknya periksa kehamilan secara teratur untuk mengetahui kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat. Juga perlu diperhatikan, bahwa berjima’ pada saat sang isteri hamil besar dan menjelang saat melahirkan, akan kurang baik bagi kondisi ibu. Seperti halnya hamil muda, bila terpaksa berjima’, maka harus dilakukan dengan hati-hati, dan sang isteri tetap tidak dalam keadaan keletihan.

MENYAMBUT KEHADIRAN SI BUAH HATI

Sebelum si buah hati hadir di hadapan ayah dan ibunya, sudah tentu isteri harus menjalani proses persalinan. Hadapilah persalinan ini dengan tawakal dan ridha kepada Allah. Rasa sakit ketika melahirkan dan ikhlas menerimanya, harus sudah difikirkan betul-betul jauh-jauh sebelumnya, sehingga secara mental isteri sudah siap menjalaninya.

Tidaklah sedikit kaum ibu, setelah melahirkan kadang mengalami kebingungan atau mengalami tekanan seketika. Hal ini disebabkan proses bersalin yang menimbulkan stress dan kelelahan berkepanjangan. Apalagi kelelahan ini berlanjut, karena harus merawat si kecil atau karena menyusui.

Kadang-kadang, bayi yang baru lahir membuat sang ibu bertambah lelah, karena kelakuan bayi. Misalnya sering menangis atau rewel, sehingga kesempatan untuk beristirahat tidak ada sama sekali. Bayi rewel atau sering menangis, ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Di antaranya, karena kencing atau pipis, buang kotoran dan ingin segera diganti lampinnya, air susu yang belum lancar, kondisi tali pusat bayi karena infeksi, atau ada gigitan serangga dan lain-lain.

Bantuan dan dukungan suami sangat penting untuk memulihkan kondisi fizikal dan mental isteri. Misalnya, secara bergantian menjaga sang bayi. Kita contoh teladan Nabi Muhammad saw yang suka membantu isterinya.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam suka membantu pekerjaan isterinya. Dan jika tiba waktu shalat, beliau keluar untuk menjalankan shalat". [HR Bukhari, 6039].

Banyak dari kaum isteri mendapati sebuah kebahagiaan, kesenangan dan ketenangan dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya, manakala ia ditemani dan dibantu oleh sang suami tercinta. Namun demikian, isteri juga harus pintar merawat dan mengasuh anak, serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya, sehingga tidak sering meminta bantuan suami, karena tugas suami yang utama adalah mencari nafkah untuk isteri dan anak-anaknya.

Boleh terjadi, karena tidak ada saling pengertian dan pembagian tugas di antara suami isteri, sehingga menimbulkan perselisihan dan pergaduhan yang berakibat buruk, yaitu perceraian; karena isteri tidak sabar merawat dan mengasuh bayi, ataupun sang suami sangat egois tidak mengerti kondisi isteri yang kesibukan dan kelelahan.

Kadang-kadang juga, karena kelelahan yang berkepanjangan dan emosi belum stabil, sang ibu akan sering marah dan jengkel melihat si kecil yang terlalu rewel. Hal ini akan berakibat kurang baik bagi bayi, juga bagi ibunya sendiri, karena ada gangguan hubungan secara psikologis antara ibu dan bayinya. Dan justeru menyebabkan bayi bertambah rewel atau tidak tenang. Tentunya hal ini boleh dihindari dengan mencari penyebab kerewelan bayi tersebut, sehingga boleh segera diatasi bersama.

Seorang ibu sebaiknya selalu penyabar dan penyayang terhadap keluarganya, karena Allah SWT bersama orang-orang yang sabar. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan kepada para wanita untuk selalu menyayangi anak-anaknya.

Sangat dianjurkan, apabila ibu terlalu letih pasca melahirkan, untuk segera mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi/berzat tinggi. Bila perlu, minumlah multivitamin atau suplemen makanan ataupun minuman. Usahakan untuk boleh beristirehat, meskipun hanya sebentar. Dibolehkan juga meminta bantuan orang lain (khadimah) ataupun keluarga untuk mengurangi kesibukan keluarga. (dr. Ira).

Sumber :
- Kado Pernikahan, Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi`, terjemahan, Pustaka al Kautsar, Juli 2005.
- Ilmu Kebidanan dan Kandungan, Sarwono P, 1983.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006)